×
Email Marketing untuk Customer Retention

Ibaratkan saja, dalam penjualan offline atau penjualan konvensional, kamu harus terus terhubung dengan konsumen kamu, baik melalui telepon, aplikasi chat, kadang ada yang tidak membuat batas, sampai berteman di sosial media, semua itu bertujuan untuk dapat menjaga hubungan baik.


Tujuannya beragam, agar bisa mendapat rekomendasi ke circle dari pelanggan tersebut, atau bisa menawarkan pelanggan produk lain, atau hanya untuk mempererat hubungan yang kemungkinan bisa menjadi partner bisnis atau jodoh, loh.


Begitupun dalam penjualan online, terlebih layanan seperti Software as A Service, yang jarang bahkan tidak pernah sama sekali bertatap muka dengan pelanggan, maka dengan 'mengikat' nya melalui email marketing atau email subscriber, bisa jadi akan menjaga hubungan, selama email tersebut tidak masif dan dengan pendekatan solutif, maka email tersebut akan nyaman-nyaman saja bagi customer.


Tentunya hal ini juga bisa disebut dengan email marketing, yang tidak hanya untuk 'mencari' pelanggan baru dengan hasil databaase beli atau database dari scraping dan collect data melalui internet, sekali lagi, ini tips untuk email yang digunakan menambah penjualan dengan existing customer.


Tak ubahnya menjalankan ads campaign untuk para pelaku digital marketing, dalam email marketing ini terdapat parameter-parameter umumnya untuk monitoring, seperti mempertimbangkan CTR, memperhatikan Conversion Rate, Bounce Rate, Unsubscribe Rate, hingga list Growth Rate, maka dari itu simak hal ini selengkapnya.


CTR atau Click Through Rate 

Bagi yang sudah berkecimpung dalam dunia pemasaran digital, hal ini tidak akan asing di mata, cara menghitungnya sama seperti CTR umumnya, yaitu CTR=(total_email_terkirim / total_tampil) x 100, contoh : 500 total klik di bagi 10,000 email terkirim di kalikan 100 = 5% CTR nya.


grid-ctr-adalah1656891810.png


CTR adalah tampilan yang utama yang muncul di dashboard email marketing kamu, dari sini bisa memperkirakan kinerja setiap email yang di blast dan bisa track terus setiap harinya, karena memang email terkirim akan terus mengalami perubahan laporannya, karena metrik CTR akan menjadi parameter utama untuk memantau email kamu menarik apa enggak, menjual apa enggak, dari persentasi itu tadi.


Conversion Rate

Seperti namanya, rate konversi, misal dalam email marketing ini target konversinya apa sih ? misal, email yang menarik akan menampilkan rasa ingin tahu pemilik email sehingga meng-klik link yang dimaksud, lalu mengisi form survey untuk keperluan online research atau market research, atau bisa juga untuk klik ke katalog produk.

Cara mengkalkulasinya yaitu Conversion=(Total_klik / Total_Email_Terkirim) x 100, contoh kasus: ada 400 orang yang klik 10.000 email yang dikirim, lalu kalikan 100, maka hasil yang didapat adalah 4%, jadi kalau saja mengirim email itu tujuannya supaya pemilik email mengklik link dan mengisi form survey, maka itu 4% itu adalah conversion ratenya.


Jangan lupakan memasang tracker, atau jika malas, bisa gunakan short url seperti bit.ly yang bisa melacak berapa kali klik pada link tersebut, kalau tujuan utamanya menghasilkan sales, maka rate konversi ini adalah fokus utama yang harus kamu perhatikan.


Bounce Rate

Yang di sini beda dengan yang google analytics, ini lebih gamblang sebagai email yang tidak terkirim ke inbox target, entah itu udah di report spam, atau ip address mail server kamu nggak masuk whitelist, sehingga dianggap spam, atau email target sudah tidak aktif, tapi mailer provider kamu tidak me reportnya bahwa itu email sudah tidak aktif.


Cara menghitungnya adalah Bounce_Rate = (jumlah_bounce_rate / email_terkirim) x 100, contoh : ada 110 email yang tercatat sebagai bounce, diantara 10ribu email terkirim, maka bouncenya adalah 11, dan bisanya oleh provider email marketing dijadikan percentage, sehingga didapati nilainya sebesar 11%.

Dalam email marketing ada dua jenis bounce ini, yaitu hard bounce dan soft bounce, dari softbounce yang berarti masalah yang terjadi sementara dalam email server yang dikirim, seperti inbox full karena terbatas, biasanya masuk dalam queue dari mail server penerima, yang nantinya akan masuk ke inbox setelah email penuh tadi memiliki kuota.


grid-bounce-rate-adalah1656891818.jpg


Selanjutnya adalah hard bounce, yaitu karena alamat email tidak valid, atau sudah di hapus, kalau ada report tidak berhasil terkirim, sebaiknya kamu batalkan pengiriman apabila ada fitur pembatalan pengiriman, dan jangan pernah mengirimnya kembali, agar IP alamat email kamu tidak dianggap spam.


Open Rate

Yang ini tidak terlalu membutuhkan analisa, karena dari dashboard mailer marketing saja sudah jelas, bahwa email anda memang dibuka, apakah di baca ataukah langsung move to spam, hanya notifikasi unsubsribe sistem yang tahu. 


Rasio Forward

Katakanlah email kamu menarik, atau memang sedang dibutuhkan oleh purchasing, tapi kamu emailnya ke orang yang dalam waktu dekat mau resign, siapa yang tau ya kan, biasanya sama orang ini emailmu akan di forward ke yang bersangkutan, nah disinilah forward rate.


Rumusnya adalah, Forward = (Klik_Forward / Total_Email) x 100, NOTE YA, khusus ini, cuma ada di vendor-vendor email marketing yang udah terkenal seperti mailchimp, akan ada reportnya sendiri,contoh : ada 100 email yang kamu kirim, lalu ada yang klik forward, dengan jumlah total email terkirim lalu kalikan 100, jadinya persentase.


Dari sini bisa memunculkan analisa baru, kenapa email ini di forward ? pentingkah ? ataukah sekedar melaporkan ke administrator email bahwa ada email spam supaya di blacklist ? ataukah di forward ke divisi marketing supaya meniru cara kamu ?.


Growth Rate 

Sebagai hasil dari email marketing yang kamu jalani, artinya melihat dari sisi growthnya, supaya kamu bisa evaluasi, cara-cara yang kamu jalani perlu diubah atau perlu di tingkatkan, termasuk memilah lagi mana email target yang me-respon email kamu, cara menghitungnya adalah.


Growth = ((jumlah_pelanggan_baru) - (jumlah_pelanggan_unsub_email) + (pelanggan_yang_complain)) / jumlah_email_di_list_kamu x 100, contohnya : dari total 1 bulan kamu kirim email, setelah di cocokkan dengan tracker dan behavior user di google analytics, hasil pelanggan baru ini dikurangi dengan total jumlah pelanggan email marketing kamu yang tadinya tidak unsub, lalu dia meng unsubscribe, dan ditambahkan dengan jumlah pelanggan setia kamu yang marah atau complain karena kamu kirim promo email terus, tapi masih memakai jasa atau service atau apps kamu, di bagikan jumlah alamat email yang ada di daftar email marketingmu tapi yang sudah positif sebagai pelanggan kamu, lalu dikalikan 100 (karena lagi-lagi diambil persentasenya).


Contoh kasus yaitu ada 100 pelanggan baru dan 20 unsub dan complain karena kamu gempur email ada 25 orang,diantara 300 daftar email pelanggan total, maka (100 - 20 + 25) / 300 x 100 = 31, sehingga didapati total ada 31% growth rate nya.


grid-growth-rate-adalah1656891821.jpg

Selain CTA atau call to action metrik, CTR, dan conversion rate, tentunya kamu juga pengen tau, email yang kamu lakuin ini ada efek growthnya nggah sih, ygy (ya gak guys), tentunya kamu harus banget cari pelanggan baru, atau bisa dengan memasukkan daftar email dari kartu nama yang dikumpulkan oleh para sales lapangan untuk mencoba email marketing.


Dikutip dari hootstuite, bahwsanya tindakan email marketing ini, yang kamu lakukan selama satu tahun, dalam satu tahun mendatang, kegiatanmu ini bisa membosankan penerima email, bahkan menurut riset mereka, sebanyak 22,5% dari email marketer banyak bertukar data untuk di spam email, karena maksimal satu tahun itu, customer akan bertahan menerima email, sisanya mereka akan cuekin email mu atau malah report as spam email marketingmu.


ROI 

Akhirnya kita sampai di tahap Return on Investment, yaitu dana yang didapat dari keseluruhan biaya operasional email marketing ini, yang artinya, pendapatan dibagi dengan biaya total pengeluaran, rumus perhitungannya, ROI = (nilai_keuntungan / biaya_email_marketing) x 100 = sehingga ratio ROI yang akan didapatkan, KPI nya sederhanya, jika dibawah 20 yang dikonversikan sebagai 20x lipat dari Growth Rate, artinya kamu rugi.


Ingat ya, hal diatas adalah nilai_keuntungan bukan nilai_omzet, jadi harus diatas 20x lipat dari Growth Rate, kenapa begitu ? sebenarnya ini karena trend yang disepakati di kalangan para email marketer aja sejak di sepakati di forum-forum spamer tahun 2012, untuk parameter re-engagement, nggak tau juga ya kalau jaman sekarang yang sudah punya pakem sendiri, karena saat itu jaman mailer banyak bertebaran softwarenya, beda dengan sekarang yang mail server lebih canggih, jika mailer biasa akan dimasukkan daftar spam, sehingga dibutuhkan provider email marketing khusus seperti mailchimp tadi, parameter ini berbeda dengan gaining new market yang KPI nya diatas 30%.


Contoh : Dari email marketing ini ada keuntungan sebesar 1 juta rupiah di bagi biaya email marketing semisal 500ribu rupiah, dikalikan 100, jadi ratio nya 2x lipat atau 200 ROI.


Sebenarnya ROI ini juga nggak pakem-pakem juga ya, banyak variabel yang mempengaruhi, seperti produk yang dijual, ratio berapa lama email dibuka target sejak pertama kali dikirim, rata-rata di hari ke berapakah dibuka ? apakah dibaca atau di apakan ? banyak sekali pertimbangannya, ini hanya contoh general saja ya.


Dalam menjalankan email marketing, dibutuhkan effort ekstra, karena bisa jadi memang target membutuhkan produk yang kamu tawarkan atau malah sangat menggangu baginya, maka dibutuhkan kreatifitas dan email yang jelas, siapakah pemegang email tersebut, cocokkah dengan produk yang kamu tawarkan ? (Creativauz)

×

Notice!!

Gunakan kode p4hl4w4n pada chat Whatsapp agar mendapatkan promo diskon 10% untuk pembuatan website, dan 5% untuk diskon digital campaign